My Little Notes

August 12, 2005

Temper Tantrum

Pengertian:

letupan kemarahan anak (mengamuk)

waktu terjangkit:

sering terjadi dalam 4 tahun pertama usia anak

bentuk tingkah laku:

  • menangis
  • menjerit
  • melempar barang
  • membuat tubuh kaku
  • memukul
  • berguling-guling di lantai
  • tidak mau beranjak dari tempat tertentu

menjadi kebiasaan apabila anak mengetahui bahwa dengan cara itu keinginannya akan dipenuhi
Temper Tantrum terbentuk secara kondisional.

kondisi yang menyebabkan temper tantrum menjadi kebiasaan:

  1. balita yang mengalami sakit untuk waktu lama
  2. Ketidakkonsistenan orang tua dalam menerapkan disiplin pada anak-anaknya
  3. sikap orang tua yang cenderung mengkritik dan terlalu cerewet
  4. Anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental serta yang mengalami hambatan dalam perkembangan bicara pada saat mereka gagal mengungkapkan maksudnya pada lingkungan.

Contoh kasus:

anak menjadi sering marah karena si ibu selalu dengan paksa menyuruh anak buang air kecil saat ia asyik bermain.
Kemarahan yang awalnya timbul karena anak dihentikan dari aktivitas bermainnya, akhirnya beralih pada situasi pergi ke kamar mandi bisa membangkitkan kemarahan anak.

Penanganan

  1. hindari pembatasan yang berlebihan terhadap kebebasan anak
  2. hindari tuntutan yang berlebihan
  3. hindari pemberian tugas yang diluar kemampuan anak
  4. tidak bersikap sewenang-wenang
  5. tidak terlalu memegang teguh sikap-sikap keras dan kaku dalam mengasuh dan mendidik anak
  6. bersikap konsisten atau ajeg, namun tetap penuh kasih sayang: keajegan memungkinkan anak belajar dari pengalaman-pengalamannya. Namun ini tidak berarti segala sesuatu harus berlangsung rutin tanpa pengecualian.
    Bagaimanapun juga, pengecualian dari apa yang sudah ditetapkan boleh saja dilakukan sepanjang hal itu diperlukan dan tidak dilakukan demi mengikuti suasana hati orang tua semata.

Sikap orang tua saat anak mengamuk:

tenang
kalem
tidak terpancing untuk marah
konsistensi dan penuh pengertian
Sedapat mungkin abaikanlah adegan mengamuk tsb, sehingga anak menyadari bahwa ia tidak bisa memperoleh perhatian dengan kemarahannya itu. Anak harus belajar bahwa dengan mengamuk ia tidak akan mendapat apa yang ia inginkan.
Jangan sekali-sekali mencoba berargumentasi dengan anak pada saat ia sedang mengamuk.
beberapa saat setelah amukan berakhir atau mereda merupakan saat yang baik untuk mengatakan bahwa caranya itu salah dan tidak bisa diterima. **Di atas itu semua, perlu diketahui bahwa, dalam batas-batas tertentu, mengamuk adalah hal yang wajar terjadi pada anak-anak.**

Menghadapi Tantrum si Kecil

(3 Tahun Pertama Yang Menentukan)

Sebagai orang tua, sebaiknya Anda melihat kecenderungan tantrum pada anak sebagai ekspresi yang sehat. Namun terkadang orang tua kewalahan menghadapi Tantrum si kecil. Menghilangkan tantrum 100 persen tentu bukan pekerjaan mudah.

beberapa cara untuk meminimalkan kemarahan si kecil:

(Cobalah menerapkan cara ini sesuai situasi, dan pastikan bahwa orang-orang yang membantu Anda mengasuh si kecil menggunakan cara yang sama dengan Anda)

Cobalah tenang
Kepanikan Anda menghadapi tantrum si kecil akan menyulut kemarahannya. Melihat Anda tidak dapat mengendalikan diri, anak akan panik dan sulit mengendalikan dirinya juga. Si kecil membutuhkan sosok yang dapat menularkan ketenangan untuk mengontrol situasi, karena keterbatasannya mengendalikan diri di usia ini. Ia juga membutuhkan kepastian bahwa dalam situasi apa pun Anda masih mencintainya.

Ingat-ingat penyebabnya
Cobalah menuliskan di dalam agenda Anda, apa penyulut kemarahan si kecil. Terkadang tantrum disebabkan anak terlalu lelah, lapar, atau terlalu banyak stimulasi. Jika ini penyebabnya, cobalah menghindari keadaan ini. Kemungkinan lain, tantrum si kecil hanya muncul jika ia dibawa ke supermarket. Jika demikian, batasi kepergian ke supermarket dengan
membawa si kecil.

Berbicaralah dengan halus namun mantap
Jika Anda berteriak maka si kecil akan membalas dengan teriakan yang lebih hebat. Namun jika Anda dapat berbicara dengan intonasi yang halus namun mantap, hal ini akan membantu si kecil mengatasi diri. Terkadang karena terlalu halus suara yang Anda ucapkan, si kecil tidak dapat mendengar. Hal ini justru menguntungkan, karena biasanya ia akan terdiam berkonsentrasi pada apa yang Anda ucapkan.

Singkirkan keinginan menggunakan hukuman fisik
Tantrum si kecil terkadang membuat orang tua kesal, sehingga tanpa sadar orang tua menjatuhkan hukuman fisik seperti memukul atau mencubit agar si kecil diam. Hal ini merupakan pertanda bahwa Anda pun telah kehilangan kontrol diri.
Bagaimana meminta si kecil belajar mengontrol dirinya, jika orang tuanya sendiri tidak mampu mengontrol diri sendiri?

Jangan berdebat
Mengajak si kecil berdebat selama kemarahannya meledak tidak ada gunanya. Pada saat ini si kecil dapat diharapkan berpikir rasional. Tunggulah hingga ia sudah dapat menggunakan logika berpikirnya kembali, baru ajak ia berdiskusi.

Jaga anak dari kemungkinan celaka
Terkadang si kecil banyak menggunakan gerakan memukul atau menendang. Jika hal ini tidak diwaspadai dapat mencelakai dirinya sendiri, atau orang di sekitarnya. Cobalah mengajak anak ke tempat yang lebih aman, misalnya tidurkan ia di tempat tidur, atau ikatkan tali pengaman jika ia mengamuk di kereta dorongnya. Jika tidak mungkin,
cobalah untuk memegang, atau memeluknya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Selain mencegah kemungkinan celaka, dengan memegang atau memeluk, si kecil merasa Anda membantunya menyatukan ‘bagian’
dari dirinya yang telah ‘hancur berkeping-keping’. Pelukan erat juga membantu meluruhkan kemarahan, baik bagi si kecil maupun Anda.

Tunjukan empati
Tunjukan bahwa Anda mengerti perasaan si kecil. Misalnya dengan berkata,”Ibu tahu sulit rasanya jika tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Ibu juga sering merasa kecewa dan marah jika ibu tidak mendapatkan apa yang ibu inginkan”.

Coba alihkan perhatian anak
Kadang-kadang ada anak yang sulit sekali mengatasi tantrum-nya. Campur tangan orang tua bahkan dapat memperburuk kemarahannya. Jika ini terjadi, cobalah alihkan perhatiannya dengan mengajaknya melakukan permainan yang telah lama tidak dilakukannya, atau perdengarkan lagu-lagu gembira favoritnya. Cara lain yang dapat dicoba adalah humor misalnya
dengan mengatakan,”Apa pun yang kamu lakukan, jangan ketawa!! Eh…, lho kok malah ketawa”.

Berikan waktu jeda
Jika si kecil tidak dapat mengontrol dirinya untuk waktu yang cukup lama, cobalah untuk memberikan waktu jeda. Misalnya, biarkan ia menyendiri di dalam kamarnya hingga kemarahannya reda. Namun tentunya semua itu harus dibawah pengawasan anda. Pastikan bahwa ia aman berada sendiri di dalam kamarnya.

Jangan takut jika tak mereda
Jika Anda tidak dapat meredakan tantrum-nya, jangan terlalu cemas. Mungkin ia memang membutuhkan waktu untuk mengekspresikan emosinya. Setelah ia merasa lega, maka semua akan segera berakhir.

Sumber: NAKITA

August 5, 2005

Pengaruh Permainan Pada Perkembangan Anak

  • Bermain: suatu kegiatan untuk memperoleh kesenangan
  • Ada pendapat orang tua: anak yang terlalu banyak bermain akan menjadi malas bekerja dan bodoh.
  • beberapa ahli psikologi: permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak.

Faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak

  1. Kesehatan: Anak-anak yang sehat mempunyai banyak energi untuk bermain dibandingkan dengan anak-anak yang kurang sehat, sehingga anak-anak yang sehat menghabiskan banyak waktu untuk bermain yang membutuhkan banyak energi.
  2. Intelegensi: Anak-anak yang cerdas lebih aktif dibandingkan dengan anak-anak yang kurang cerdas. Anak-anak yang cerdas lebih menyenangi permainan-permainan yang bersifat intelektual atau permainan yang banyak merangsang daya berpikir mereka, misalnya permainan drama, menonton film, atau membaca bacaan-bacaan yang bersifat intelektual.
  3. Jenis kelamin: Anak perempuan lebih sedikit melakukan permainan yang menghabiskan banyak energi, misalnya memanjat, berlari-lari, atau kegiatan fisik yang lain. Perbedaan ini bukan berarti bahwa anak perempuan kurang sehat dibanding anak laki-laki, melainkan pandangan masyarakat bahwa anak perempuan sebaiknya menjadi anak yang lembut dan bertingkah laku yang halus.
  4. Lingkungan: Anak yang dibesarkan di lingkungan yang kurang menyediakan peralatan, waktu, dan ruang bermain bagi anak, akan menimbulkan aktivitas bermain anak berkurang.
  5. Status sosial ekonomi: Anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang status sosial ekonominya tinggi, lebih banyak tersedia alat-alat permainan yang lengkap dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan di keluarga yang status ekonominya rendah.

Pengaruh bermain bagi perkembangan anak

  1. Bermain mempengaruhi perkembangan fisik anak
  2. Bermain dapat digunakan sebagai terapi
  3. Bermain dapat mempengaruhi pengetahuan anak
  4. Bermain mempengaruhi perkembangan kreativitas anak
  5. Bermain dapat mengembangkan tingkah laku sosial anak
  6. Bermain dapat mempengaruhi nilai moral anak

Macam-macam permainan dan manfaatnya bagi perkembangan jiwa anak

Permainan Aktif

  1. Bermain bebas dan spontan atau eksplorasi
    • anak dapat melakukan segala hal yang diinginkannya
    • tidak ada aturan-aturan dalam permainan
    • Anak akan terus bermain selama permainan tersebut menyenangkan
    • anak akan berhenti apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkan
    • anak melakukan eksperimen atau menyelidiki, mencoba, dan mengenal hal-hal baru.
  2. Drama
    • anak memerankan suatu peranan
    • menirukan karakter yang dikagumi dalam kehidupan nyata atau dalam mass media
  3. Bermain musik
    dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah laku sosialnya, yaitu: dengan bekerja sama dengan teman-teman sebayanya dalam memproduksi musik, menyanyi, berdansa, atau memainkan alat musik.
  4. Mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu
    • dapat menimbulkan rasa bangga, karena anak mempunyai koleksi lebih banyak daripada teman-temannya
    • dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak
    • Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerja sama, dan bersaing.
  5. Permainan olah raga
    • anak banyak menggunakan energi fisiknya, sehingga sangat membantu perkembangan fisiknya
    • mendorong sosialisasi anak dengan belajar bergaul, bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta menilai diri dan kemampuannya secara realistik dan sportif.

Permainan Pasif

  1. Membaca
    • merupakan kegiatan yang sehat
    • dapat memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anakpun akan berkembang kreativitas dan kecerdasannya.
  2. Mendengarkan radio
    • menambah pengetahuan anak
    • tetapi berdampak negatif apabila anak meniru hal-hal yang disiarkan di radio seperti kekerasan, kriminalitas, atau hal-hal negatif lainnya.
  3. Menonton televisi
    Pengaruh televisi sama seperti mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun negatifnya.

Cerita tentang Mainan

Sumber: Bandung Advertiser edisi 26 Juni 2004, h. 11
Penerjemah: Erich H. Ekoputra

Panduan mainan bagi tiap umur

Bayi

Karena bayi menanggapi bau, rasa, suara, sentuhan, dan penampakan, mainan-mainan yang melibatkan indera-inderanya memberinya kesempatan belajar tentang ukuran, bentuk, suara, tekstur, dan bagaimana benda-benda bekerja. Namun, keselamatan paling utama; maka. Pastikan mainan dirancang baik.

Perhatikan hal-hal berikut ketika membeli mainan bagi si kecil:

  • Potongan-potongannya berukuran besar yang tak mungkin ditelannya jika terurai
  • Ringan untuk diutak-atik dan dipegang
  • Tidak bersisi tajam atau berujung runcing
  • Terbuat dari bahan nirracun (non-toxic)
  • Tak mudah dicabik (dengan tangan maupun gigi)
  • Mata, hidung, dan sampiran-sampiran lain kuat melekat dengan aman

Mainan yang Baik

  1. Usia 0-2 bulan

    • Mainan untuk dilihat dan didengar, seperti mobil-mobilan, kincringan dan kecrekan kain.
    • Tikar dan alat senam mainan merupakan kesenangan inderawi yang besar, namun perhatikan tali, benang, atau manik-manik yang mungkin memaparkan bahaya tercekik atau tersedak.
  2. Usia 2-4 bulan
    Mainan yang bisa diutak-atik lewat mencengkeram:

    • kincringan
    • mainan gigitan
    • mainan bertekstur
    • mainan berpegangan atau bertombol besar
    • mainan sebab-dan-akibat yang mengeluarkan cahaya atau suara ketika disentuh atau ditekan
  3. Usia 4-8 bulan
    Seorang bayi yang sedang belajar duduk siap untuk menjelajah dunia, maka carilah:

    • balok-balok bergambar berwarna cerah
    • lingkaran tumpuk
    • mainan penyimpan
    • buku bergambar
    • bola
    • mainan tarik-dan-dorong
  4. Usia 8-12 bulan
    Anak-anak pada tahap ini gemar membuat sesuatu terjadi dengan menekan tombol, dan mendengarkan lagu, atau membuat burung nongol dari jendela. Pilihan-pilihan terbaik:

    • Buku-buku karton
    • balok-balok besar
    • alat-alat musik (drum, krencengan, trompet mainan)
    • binatang-binatangan dari kain berspons
    • kotak dan papan kegiatan

Balita

Seorang batita selalu sibuk berjalan, mendaki, mendorong, dan menunggang. Bermain khayali mulai selama masa ini, sebagaimana juga minat kuat dalam mengolah dan memecahkan masalah dengan benda-benda.

Mainan yang Baik

  1. Usia 12-18 bulan
    Anak-anak pada masa ini memerlukan benda untuk bermain fisik secara aktif, seperti mainan berjalan (kereta belanja, kereta bayi, atau mobil kayuh). Pilihan-pilihan terbaik:

    • Penyortir bentuk
    • balok-balokan
    • boneka lunak
    • sepeda tiga roda yang rendah
    • mobil bak untuk dikayuh atau ditarik
    • Bola besar
    • mainan-mainan yang bisa mengembang (inflatable)
    • kolam renang
    • bak pasir beserta perkakas menggali
  2. Usia 18-24 bulan
    Batita-batita yang lebih besar gemar berpura-pura mereka adalah “orang-orang dewasa” seperti ibu dan ayah sehingga bermain tiru-tiruan adalah penting.

    • Makanan mainan
    • perkakas dan perabotan mainan
    • furnitur mainan ukuran anak-anak
    • boneka beserta pakaiannya yang mudah diganti-ganti
    • juga bisa menikmati alat-alat musik seperti tambur, piano, trompet tanduk, dan drum mainan
    • mendengarkan kaset
    • masih kurang memiliki ketangkasan gerak seorang dewasa
    • masih suka menaruh benda-benda di mulut, jadi jangan ada barang-barang kecil.
  3. Usia 2-3 tahun
    Penyelarasan tangan-mata kini lebih halus sehingga mereka dapat mengutak-atik benda-benda kecil dan mainan-mainan seperti balok-balokan, mobil, truk, dan keretapi (dengan relnya); boneka bayi dan perabotan pembersih rumah; makanan atau bahan makanan mainan untuk dapur-dapuran; puzzle (hingga 30 keping); buku sederhana; buku mewarnai dan krayon.

Balita

Bersama dengan khayalan timbullah konsep baik dan buruk dan anak-anak mulai takut kepada kegelapan atau monster di bawah kasur. Boneka atau beruang teddy kesukaan, misalnya, dapat menjadi penenang besar. Anak-anak kadang kala akan berbagi rahasia atau perasaan kepada mainan yang mana akan mereka sembunyikan kepada orang lain. Anak-anak kecil ini juga merasa gagasan menempuh jarak yang jauh itu mempesonakan, jadi truk, mobil, pesawat, kereta, perahu, dan traktor semuanya menyenangkan pada umur ini.

Untuk membantu menajamkan ingatan dan kemampuan membayangkan mereka, perkenalkan permainan yang mensyaratkan penggunaan khayalan atau perhitungan mental. Permainan papan, mainan elektronik, permainan kata dan mencocokkan, semua diarahkan khusus untuk kelompok ini.

Mainan yang Baik

  1. Usia 3-4 tahun
    Permainan menjadi lebih gaul sehingga Anda menemukan anak-anak Anda berbicara kepada mainannya atau membangun rumah untuk binatang mainannya. Benda-benda perangsang daya cipta seperti gunting bertepi majal, lem, kertas, dan peralatan kriya sederhana adalah taruhan- taruhan yang baik.
  2. Usia 4-6 tahun
    Masa kegilaan sesaat! Ia mungkin melewati suatu tahap dinosaurus, tahap ruang angkasa, tahap serangga. Ini juga masa keemasan untuk belajar demi belajar, sebelum sekolah memaksa mereka belajar demi ujian! Maka, pastikan ia memiliki pasokan seni, buku bacaan pertama, dan buku coret-moret untuk kumpulan perangko, daun, koin, dlsb!

Diambil dari milis Balita-Anda, kutipan dari Temu Ilmiah Tumbuh Kembang Jiwa Anak dan Remaja (sumber: iqeq.web.id)

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here